Follow by Email

Home » » strees di sekolah

strees di sekolah

Written By hmp BK trenggalek on Rabu, 02 November 2011 | 16.21

BAB II
PEMBAHASAN


2.1  Definisi Stres Sekolah
Stres sekolah merupakan hal yang perlu diperhatikan, karena di dalam hal ini siswa selalu mendapatkan tuntutan dan tekanan yang dapat mempengaruhi perkembangan peserta didik. Dari berbagai penelitian yang dilakukan stres sekolah menjadi sesuatu yang dapat mengakibatkan siswa menjadi jenuh dan dapat mengalami perlawanan aktif ataupun perlawanan pasif.
Verma, dkk (2002), mendefinisikan bahwa stres sekolah adalah stres siswa yang bersumber dari tuntutan sekolah. Tuntutan sekolah ini lebih difokuskan pada tuntutan tugas – tugas sekolah dan tuntutan dari guru – guru di sekolah.
Desmita (2005) mendefinisikan stres sekolah sebagai ketegangan emosional yang muncul dari peristiwa – peristiwa kehidupan di sekolah dan perasaan terancamnya keselamatan atau harga diri siswa, sehingga memunculkan reaksi – reaksi fisik, psikologis dan tingkah laku yang berdampak pada penyesuaian psikologis dan prestasi akademis.
Jadi, stres sekolah adalah kondisi stres atau perasaan tidak nyaman yang dialami oleh siswa akibat adanya tuntutan sekolah yang dinilai menekan, sehingga memicu terjadinya ketegangan fisik, psikologis, dan perubahan tingkah laku, serta dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa.

2.2  Sumber Stres Siswa
Sumber stres siswa beragam macamnya, hal ini dipengaruhi oleh berbagai sumber yang menuntut, menekan dan kondisi yang mengharuskan seorang siswa untuk melakukan hal yang tidak diinginkannya.
Sumber – sumber itu dapat dikelompokkan menjadi 4 (empat), yaitu sebagai berikut :

1.      Tuntutan Fisik
Dapat didefinisikan sebagai stres siswa yang bersumber dari lingkungan fisik sekolah. Sumber itu antara lain :
a.       Keadaan iklim ruang kelas dan iklim lingkungan sekolah yang tidak mendukung untuk meningkatkan semangat belajar.
b.      Kondisi ruang kelas dalam temperatur tinggi. Hal ini dapat mengakibatkan siswa sering mengalami tubuh yang panas dan menimbulkan tidak nyamannya siswa dalam menjalani pendidikan di sekolah.
c.       Kurangnya perhatian terhadap pancahayaan atau penerangan dan ventilasi udara di dalam ruang kelas.
d.      Perlengkapan atau sarana yang kurang menunjang dan kurang memadai dalam proses pembelajaran.
e.       Kebersihan dan kesehatan di sekolah yang dirasa kurang.
f.       Daftar pelajaran yang terlalu berlebihan dan dapat membebankan siswa.
g.      Keamanan dan penjagaan sekolah yang kurang dilakukan.

2.      Tuntutan Tugas
Merupakan stres yang bersumber dari tugas – tugas pelajaran yang harus dikerjakan atau dihadapi oleh peserta didik yang dapat menimbulkan perasaan tertekan dan terbebani. Misalkan :
a.       Tugas – tugas yang harus dikerjakan setiap hari di sekolah. Setiap guru yang mengajar hampir semuanya memberikan tugas di sekolah setiap harinya.
b.      Tugas – tugas yang dikerjakan di rumah.
c.       Siswa harus memenuhi tuntutan kurikulum yang diterapkan di sekolah dari dinas pendidikan.
d.      Siswa harus menghadapi ulangan atau ujian untuk mendapatkan penilaian dari hasil belajarnya.
e.       Siswa harus mentaati tata tertib atau peraturan sekolah yang ada dan menjadikan dirinya untuk disiplin sekolah.

3.      Tuntutan Peran
Adalah stres sekolah yang bersumber dari peran siswa, guru dan orang – orang yang mendukung siswa bersekolah.
Misalnya :
a.       Seorang siswa diharapkan mendapat nilai yang bagus. Hal ini sangat ditentukan oleh peran siswa sendiri untuk belajar dan guru dalam memberikan pengajaran.
b.      Guru suatu pelajaran tertentu yang bukan bimbingan dan konseling bertindak sebagai konselor.
c.       Konselor atau guru bimbingan dan konseling dianggap sebagai polisi sekolah.

4.      Tuntutan Interpersonal
Ialah stres siswa yang bersumber pada tuntutan dalam melakukan interaksi sosial atau mejalin hubungan baik dengan orang lain.
Contohnya :
a.       Menemukan teman – teman baru pada awal masuk sekolah. Para siswa dari berbagai sekolah tingkatan di bawahnya yang bersekolah sama di  satu tempat.
b.      Peserta didik mulai mengenal lawan jenis, sehingga peserta didik menjalin suatu hubungan pribadi.

2.3  Dampak Stres pada Siswa
Karena banyaknya sumber stres di sekolah, dapat menimbulkan berbagai dampak yang berbeda. Dampak itu dapat berupa dampak positif ataupun dampak negatif bagi siswa yang antara lain sebagai berikut :
1.      Dapat meningkatkan kesadaran, kesiapan dan prestasi diri pada stres sedang.
2.      Dapat menimbulkan kemunduran prestasi, tingkah laku dan berbagai problem fisik dalam stres yang tinggi.
3.      Dapat memungkinkan siswa menentang atau berbicara di belakang guru.
4.      Petunjuk bahwa seseorang itu rajin dan hati nuraninya tidak tumpul. Hal ini terbukti bahwa orang yang mengalami stres di sekolah adalah orang yang aktif dan selalu berpikir.

2.4  Cara Mengatasi Stres yang Dialami Siswa
Pada hakekatnya stres sekolah tidak dapat dihilangkan sama sekali, tetapi dapat direduksi atau diturunkan intensitasnya. Beberapa upaya yang dapat dilakukan guru dalam mengatasi stres yang dialami peserta didik, antara lain :
1.      Menciptakan iklim sekolah yang kondusif. Terjadinya situasi atau suasana yang baik antara siswa, guru dan seluruh warga sekolah.
2.      Seorang konselor yang bersikap proaktif dalam memberikan pelayanan pada siswa atau konseli, sehingga siswa yang mengalami stres sekolah mendapat bantuan dalam memahami masalah yang dialaminya.
3.      Peserta didik harus bersikap aktif. Ketika dalam mengikuti pendidikan harus mendapatkan dorongan dari diri sendiri untuk belajar.
4.      Keadaan ruang kelas yang dapat dikondisikan, mulai dari penerangan, ventilasi udaranya, iklim yang bersahabat, serta sarana dan prasarana yang menunjang serta memadai.
5.      Tugas – tugas yang diberikan juga harus melihat dan memperhatikan kondisi atau keadaan siswa.
Di sini ada beberapa usulan untuk mengatasi stres yang sedang kita alami, yaitu :
1.      Kenali persis apa yang membuat stres. ”Cerdiklah orang yang melihat malapetaka kemudian menyembunyikan diri,” kata sebuah pepatah bijak. (Amsal 22:3) Tapi, kamu tidak bisa menyembunyikan diri dari stres yang membebani kalau kamu tidak cari tahu dulu penyebab utamanya. Maka, coba lihat lagi komentar-komentar yang tadi kamu tulis. Penyebab stres mana yang paling kamu rasakan.
2.      Lakukan riset. Misalnya, jika kamu sering stres gara – gara  PR-mu menumpuk, carilah saran – saran di artikel ”Kaum Muda Bertanya—Bagaimana Saya Bisa Punya Waktu untuk Mengerjakan PR”.
3.      Rencanakan tanggapan. Kalau kamu stres soal reaksi teman setelah mereka tahu tentang kepercayaan agamamu, jangan tunggu sampai ditanya. Pikirkan mulai sekarang cara menjawabnya. (Amsal 29:25) ”Yang membuatku berhasil,” kata Kelsey, 18 tahun, ”adalah karena aku mempersiapkan diri sebelum situasinya muncul. Aku sudah menentukan akan bilang apa jika ada yang bertanya soal kepercayaanku.” Itu juga yang dilakukan Aaron yang berusia 18 tahun di Belgia. ”Aku memikirkan kira-kira pertanyaan apa yang bakal diajukan, lalu aku mempersiapkan jawabannya,” kata dia. ”Kalau tidak, aku enggak bakalan berani cerita tentang kepercayaanku.
4.      Jangan menunda-nunda. Jarang ada masalah yang hilang hanya dengan membiarkannya. Malah, masalah itu biasanya semakin parah dan kamu pun bertambah stres. Misalnya, kalau kamu adalah Saksi Yehuwa, memberi tahu hal itu secepat mungkin bisa menjadi perlindungan. Marchet, yang sekarang berusia 20 tahun, mengatakan, ”Sejak awal tahun ajaran baru, aku selalu mengajak ngobrol teman tentang hal-hal yang mengarah ke kepercayaan Alkitabku. Menurutku, semakin ditunda memperkenalkan diri sebagai Saksi, semakin sulit jadinya. Lega rasanya kalau aku sudah memberi tahu keyakinanku dan hidup sesuai dengannya sepanjang tahun.”
Mintalah bantuan. Sekuat apa pun atlet angkat beban, pasti ada batasnya. Kamu juga. Tapi, kamu tidak perlu memikul beban itu sendirian. (Galatia 6:2) Tidakkah sebaiknya kamu bicara dengan orang tuamu atau orang Kristen lain yang matang? Perlihatkan jawaban-jawaban yang tadi kamu tulis dalam artikel ini. Diskusikan dengan mereka bagaimana kamu bisa mengatasi sebagian dari masalah-masalah itu. Liz, di Irlandia, memberi tahu ayahnya bahwa dia takut jadi bulan-bulanan teman karena kepercayaan agamanya. ”Setiap hari,” kata Liz, ”ayahku berdoa bareng denganku sebelum meninggalkanku di sekolah. Jadi aku selalu merasa tenang.”


DAFTAR PUSTAKA

Dra. Desmita. M.Si, Psikologi Perkembangan Peserta Didik. PT. Remaja Rosdakarya. Bandung : 2009
http://www.iblogronnp.com/2009/07/how-can-i-cope-with-stress-at-school.html
Share this article :

0 komentar:

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Trenggalek konseling - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger