Latest Post

Tampilkan postingan dengan label NEWS HMP. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label NEWS HMP. Tampilkan semua postingan

CARA MENGISI KRS ONLINE

Written By hmp BK trenggalek on Senin, 27 Agustus 2012 | 03.12

NI BUAT REKAN REKAN MAHASISWA YANG MASIH KESULITAN UNTUK MENGISI KRS SECARA ONLINE..BERIKUT ADA SEDIKIT TUTORIALNYA..

MUDAH KOK.TAPI HARUS TELITI..OK : )

1. PERTAMA.BUKA WEBSITE INI  http://mhs.ikippgri-madiun.net/profile/mhs/

2. SETELAH MASUK.
      *ISI USERNAMAE DENGAN NPM
      *PASSWORD KOSONGKAN
      *KLIK LOGIN

Gambarnya seperti ini:

3.Setelah LOGIN.
   Akan muncul laman seperti di bawah ini:
 
     Pilih KRS

4.NEXT>>>>    muncul seperti berikut:

 
Masukkan KODE matakuliah yang sudah di berikan sebelumnya ke kolom kode matakuliah
seperti berikut:

 
 setelaha mengisi kolom KODE klik tombol CARI



5. Pilih KELAS dan kemudian klik SIMPAN

SILAHKAN CEK APAKAH SUDAH MASUK KE KOLOM..
EX:



 KLO SUDAH MASUK.ULANGI LAGI UNTUK TIAP KODE MATAKULIA
 MULAI LANGKAH NO 4 LAGI


Gimana????????  MUDAH KAN???????

Salam HIMABIKO









Supported By BeeSHOP
www.beeshop.web.id  

JENIS-JENIS PELANGGARAN YANG DILAKUKAN SISWA DI SEKOLAH

Written By hmp BK trenggalek on Sabtu, 10 Desember 2011 | 10.20

JENIS-JENIS PELANGGARAN YANG DILAKUKAN SISWA DI SEKOLAH 1. Pelanggaran yang Sering Dilakukan Siswa Di sekolah Manusia adalah makhluk yang unik. Di mana antara individu yang satu dengan yang lain memiliki perbedaan. Manusia bertindak sebagai makhluk individu dan makhluk sosial. Manusia tidak akan dapat hidup sendiri, sehingga selalu membutuhkan orang lain. Manusia dalam kehidupan mengalami beberapa tahap perkembangan. Berawal dari masa bayi kemudian kanak-kanak lalu remaja dan dewasa. Semua itu akan selalu ada dan dialami oleh manusia dalam perkembangannya. Masa remaja merupakan bagian dari kehidupan manusia yang memiliki keunikan tersendiri. Ada beberapa pendapat yang menyatakan dan mendefinisikan tentang remaja. Di dalam hal ini ada ketidaksamaan pendapat dari beberapa orang, sehingga kita juga berusaha mengetahui dan mempelajari pendapat-pendapat tersebut yang sesuai dengan kehidupan remaja pada kehidupan yang nyata. Mulai dari rentangan usia dalam remaja, ciri-ciri dari remaja, ataupun hal-hal lain yang berkaitan dengan remaja. Walau dalam pemaparannya terjadi perbedaan pendapat, tetapi perbedaan itu tidak mengakibatkan pertentangan antara individu dalam kehidupan. Dengan demikian kita sebaiknya mempelajari dan memahami segala hal yang berhubungan dengan remaja itu perlu dilakukan. Siswa dalam usia sekolah adalah memasuki masa remaja. Dalam hal ini siswa selalu akan mencari tahu, mencoba, mentaati tatatertib atau bahkan melanggarnya. Oleh karena itu siswa sering mendapatkan permasalahan, yaitu : a. Permasalahan siswa yang berhubungan dengan diri/ pribadi terdiri atas ; - Perasaan dan pikiran mengenai fisik (jasmani). Ada bentuk badan yang diidam-idamkan dan dipikirkan untuk dicapai. Diidamkannya bentuk badan atau wajah bintang film dalam poster-poster atau televisi, dibandingkan keadaan dirinya. Hal semacam ini menimbulkan rasa cemas bagi remaja karena dirinya tidak selalu manyamai idamannya. Pikiran diarahkan untuk memperoleh wajah yang demikian itu, sehingga mereka seringkali bersolek. Keadaan ini terutama terjadi pada masa remaja awal. - Sikap dan perasaan mengenai kemampuan diri. Remaja awal ini ingin berhasil dalam mengerjakan sesuatu, sementara itu di rumah dan di sekolah anak remaja awal tersebut seringkali menghadapi kegagalan dalam berbagai hal. Dirinya kadang-kadang bersikap apatis dan merasa telah gagal. Ini terjadi dalam masa remaja awal. Bantuan berupa dorongan/ motivasi dan pujian atas keberhasilan kecil yang dicapai remaja, diharapkan ada dari orang-orang disekelilingnya, sehingga terbentuk rasa percaya diri dan tidak putus asa. - Sikap pandangan diri terhadap nilai-nilai. Akibat perkembangan pikir, remaja awal memikirkan tentang nilai-nilai yang benar dan salah, yang baik dan buruk, yang patut dan tidak patut. Pertentangan antara nilai ideal dengan pelaksanaan, menimbulkan soal yang sering mereka pikirkan. Mereka mencari nilai-nilai itu sendiri untuk dijadikannya pegangan dalam masa dewasa. b. Permasalahan siswa yang berhubungan dengan orang tua, antara lain berhubungan dengan ; - Pelaksanaan tugas perkembangan dalam hal mendapatkan kebebasan emosional dari orang tua. Remaja ingin bebas, menentukan tujuan hidupnya sendiri, sementara orang tua masih takut memberikan tanggungjawab pada remaja, sehingga terus membayangi remajanya. Remaja ingin diakui sebagai orang dewasa sementara orang tua masih tidak melepaskannya sebab belum cukup untuk diberi kebebasan. - Kebutuhan-kebutuhan akan perhatian, kasih sayang dari orang tua, tidak selamanya dapat terpenuhi karena antara lain kesibukan dalam soal-soal ekonomis orang tuanya. - Tugas-tugas perkembangan yang bertentangan dengan kebergantungan secara ekonomis, khususnya dalam kelangsungan pendidikan/ sekolah. Kesemuanya menjadi bahan pemikiran dan dirasakan sebagai pengganggu hidupnya. c. Permasalahan yang berhubungan dengan teman sebaya dan peranannya sebagai pria dan wanita, antara lain ; - Pergaulan dengan teman sebaya menimbulkan permasalahan bagi remaja. Dalam remaja awal mulai mencari kelompok. Yang dipikirkan bagaimana supaya bisa diterima, populer, dan menunjukkan kemampuan-kemampuannya dalam kelompok. - Pergaulan dengan teman sebaya lain jenis mendatangkan permasalahan yang cukup banyak mengenai remaja awal. Masalah yang timbul, antara lain; bagaimana menarik perhatian lawan jenis, bagaimana menghilangkan rasa malu, bagaimana berkencan. Remaja di sini membutuhkan kejelasan dengan permasalahan itu. - Peranan diri sebagai pria dan wanita merupakan permasalahan yang timbul sebagai akibat tugas-tugas perkembangan yang harus dijalani remaja. Remaja sering bertanya pada dirinya, apakah sebenarnya peranan saya, orang yang bagaimanakah saya, teman yang bagaimanakah yang harus saya pilih?, dan sebagainya. Permasalahan itu ingin mereka tanyakan pada orang dewasa untuk mengurangi keragu-raguannya. d. Permasalahan yang berhubungan dengan masyarakat luas, antara lain ; - Pergaulan sehari-hari dalam masyarakat luas, mendatangkan masalah sejak remaja ke luar dari ikatan keluarga, sejak memperluas pergaulan dari kelompok teman sebaya. Remaja memikirkan cara-cara bertingkah laku yang sewajarnya dengan orang dewasa. Persoalan tentang perlakuan yang berlebihan atau perlakuan yang terlalu menarik diri dari orang dewasa sering mengganggu pikiran dan perasaannya. - Persiapan dalam masa depan, sekolah, dan jabatan menjadi bahan pemikirannya. Remaja awal sering mempertanyakan guna sekolah terhadap lapangan kerja yang ada. Relevansinya, kecepatannya, status sosial-ekonomi yang dapat dicapai serta prestasi yang akan diraih. Kesemua itu menggeluti pikiran remaja awal. Dari permasalahan-permasalahan yang ada siswa akan dapat melakukan suatu perlawanan yang bersifat aktif ataupun pasif. Terutama pada siswa yang dalam keadaan mendesak dan kurang mendapatkan perhatian dari orangtua, keluarga, masyarakat, guru, dan teman sebaya akan lebih mendominasi untuk melakukan pelanggaran-pelanggaran. Pelanggaran-pelanggaran yang sering dilakukan siswa di sekolah, antara lain ; - Terlambat masuk sekolah. - Keluar kelas tanpa izin. - Memalsukan tanda-tangan wali kelas, orangtua atau kepala sekolah. - Membawa minuman keras. - Berkelahi/ main hakim sendiri. - Merusak/sarana prasarana sekolah. - Mengambil milik orang lain/ mencuri. - Piket kelas tidak melaksanakan tugas. - Seragam tidak lengkap. - Makan di dalam kelas waktu pelajaran - Terlibat dalam penyalahgunaan narkoba zat adiktif lainnya. - Mengganggu, mengacau kelas lain/ membuat gaduh dan kerusuan. - Bersikap tidak sopan, menantang guru dan karyawan sekolah. - Mencoret-coret tembok, pintu, meja, kursi yang tidak semestinya. - Menikah/kawin selama dalam pendidikan di sekolah. - Membeli makanan waktu pelajaran - Membuang sampah sembarangan - Melompat pagar sekolah. - Tidak ikut Upacara Bendera. - Bermain di tempat parkir - Membawa /menyebarkan selebaran yang menimbulkan keresahan. - Membawa senjata tajam tanpa sepengetahuan sekolah. - Merubah/memalsu raport. - Mengikuti organisasi terlarang. - Berhias yang berlebihan - Membuat Surat Izin palsu. - Bolos, keluar, meninggalkan sekolah tanpa izin. - Membawa gambar porno. - Melindungi teman yang salah. - Memakai gelang, kalung, anting bagi pria - Memakai perhiasan berlebihan bagi wanita - Tidak memperhatikan panggilan 2. Klasifikasi Pelanggaran yang Dilakukan Siswa Pelanggaran-pelanggaran yang sering dilakukan siswa di sekolah dari pengidentifikasian di atas dapat di klasifikasikan/ dikelompokkan menjadi : 2.1 Pelanggaran Ringan Yang termasuk bentuk pelanggaran tatatertib siswa, yakni : 1. Terlambat masuk sekolah. 2. Keluar kelas tanpa izin. 3. Piket kelas tidak melaksanakan tugas. 4. Seragam tidak lengkap. 5. Makan di dalam kelas waktu pelajaran. 6. Membeli makanan waktu pelajaran. 7. Membuang sampah sembarangan. 8. Bermain di tempat parkir. 9. Berhias yang berlebihan yang dapat mengundang kejahatan. 10. Memakai gelang, kalung, anting bagi pria. 11. Memakai perhiasan berlebihan bagi wanita. 12. Tidak memperhatikan panggilan. 13. Rambut gondrong, tidak rapi. 14. Memberi warna rambut. 15. Berada di kantin pada waktu pergantian pelajaran. 2.2 Pelanggaran Sedang 1. Membuat Surat Izin palsu. 2. Bolos, keluar, meninggalkan sekolah tanpa izin. 3. Membawa gambar porno. 4. Melindungi teman yang salah. 5. Melompat pagar sekolah. 6. Tidak ikut Upacara Bendera. 7. Mengganggu, mengacau kelas lain/ membuat gaduh dan kerusuan. 8. Bersikap tidak sopan, menantang guru dan karyawan sekolah. 9. Mencoret-coret tembok, pintu, meja, kursi yang tidak semestinya. 2.3 Pelanggaran Berat 1. Memalsukan tanda-tangan wali kelas, orangtua atau kepala sekolah. 2. Membawa minuman keras. 3. Berkelahi/ main hakim sendiri. 4. Merusak/sarana prasarana sekolah. 5. Mengambil milik orang lain/ mencuri. 6. Membawa /menyebarkan selebaran yang menimbulkan keresahan. 7. Membawa senjata tajam tanpa sepengetahuan sekolah. 8. Merubah/memalsu raport. 9. Mengikuti organisasi terlarang. 10. Terlibat dalam penyalahgunaan narkoba zat adiktif lainnya. 11. Menikah/kawin selama dalam pendidikan di sekolah. 3. Pelayanan yang Diberikan Kepada Siswa yang Melakukan Pelanggaran Di sini saya mengambil pelanggaran siswa yang membawa dan bahkan mengkonsumsi minuman keras. Siswa yang melakukan hal ini adalah siswa yang telah mengalami permasalahan taraf kuat. Di mana kegiatan yang ada tidak akan membuat dirinya menjadi lebih baik, tetapi akan mengarahkan siswa ke jurang kesesatan atau kebodohan. Secara fisik dan psikis anak akan terlihat adanya dampak yang muncul akibat minuman keras ini. Minuman keras adalah bersifat merusak sel-sel otak manusia, pertumbuhan dan perkembangan anak akan juga terpengaruh seluruhnya. Siswa yang telah dan sering mengkonsumsi minuman keras harus diadakan konseling individu. Siswa tersebut diberikan konseling secara perorangan. Diarahkan dan dibimbing kepada hal yang baik. Adanya peringatan dan penjelasan bahwa minuman keras itu merusak dan dari segi agama Islam sendiri juga diharamkan. Konselor memanggil siswa tersebut ke ruang bimbingan dan konseling untuk dilaksanakannya konseling invidu tersebut. Siswa ditanya-tanyai guna mendapatkan informasi tentang sejauh mana siswa tersebut membawa dan mengkonsumsi minuman keras itu. Informasi yang didapat ditanggapi dengan pemikiran dan sikap yang dingin oleh konselor. Dari informasi yang ada pada siswa tersebut, kita juga perlu menggali informasi dari teman dekatnya, tetangganya, bahkan orang tuanya. Selanjutnya konselor membimbing dan mengarahkan siswa tersebut untuk meninggalkan kegiatan membawa atau mengkonsumsi minuman keras itu. Diberikan materi-materi yang baik, dan mempengaruhi siswa untuk memikirkan dampak yang akan diterima siswa dari kegiatan tersebut sampai timbul adanya perubahan yang dilakukan siswa itu sendiri. Siswa tersebut mulai diajak untuk kembali ke jalan yang benar. Diadakannya pendekatan keagamaan kepada siswa, di sini konselor dapat bekerjasama dengan guru pendidikan agama Islam. Di mana siswa tersebut diberikan pemahaman bahwa minuman keras itu menurut agama adalah kotor dan haram. Dijelaskan dalam sebuah dalil Al-Qur'an dan hadits Nabi SAW yang di riwayatkan oleh imam bukhari dan muslim tentang hukum khamar dan hukuman bagi orang yang meminumnya. قال الله تعالى فى كتابه الكريم " يآ ايها الذين آمنوا أنّما الخمر و الميسر والأنصاب والأزلآم رجس من عمل الشيطان فاجتنبوه لعلكم تفلحون " المائدة 90 روى البخارى ومسلم رحمهما الله تعالى بسنديهما الى انس بن مالك رضى الله عنه : انّ النبى صلى الله عليه وسلم أُتى برجل قد شرب الخمر فجلده بجريدتين نحو أربعين , قال ( اى انس ) وفعله ابو بكر, فلما كان عمر استشار الناس , فقال عبد الرحمن : أخفّ الحدود ثمانين , فأمر به عمر.............. ( رواه البخارى فى كتاب الحدود باب ماجاء فى ضرب شارب الخمر , ومسلم فى كتاب الحدود باب حد الخمر , وأحمد فى المسند ج 2 ص 300 , ج 4 ص 7 ) Setelah membaca ayat diatas dan hadits di atas, sudah sangat terang sekali bahwa hukum khamar adalah haram, akan tetapi bagaimana dengan hukuman si pelaku (orang yang meminum khamar )…..? siswa juga harus dijelaskan lebih terang lagi. Dalil Qur'an dan hadits Nabi SAW yang menetapkan bahwa khamar hukumnya haram meminumnya, ataupun mencicipinya. Dan khamar ( minuman keras ) termasuk memabukkan menurut definisi bahasa dan Syar'ie, hal ini telah di sebutkan oleh baginda Muhammad SAW yang di riwayatkan oleh istri tercinta beliau , Sayyidah A'isyah, عن عائشة رضى الله عنها : سُئل رسول الله صلى الله عليه وسلم عن البتع فقال :" كل شراب أسكر فهو حرام " رواه مسلم كتاب لأشربة باب بيان أن كل مسكر خمر وأن كل خمر حرام Hadits di atas sudah jelas sekali, bahwa setiap minuman yang memabukkan adalah hamar, dan hamar hukumnya haram dari segala aspek dan segi. Menurut pendapat Ibnu hajar dalam kitabnya yang berjudul AL-FATHU, menyebutkan bahwa ada enam pendapat ulama tentang pidana bagi orang yang meminum khamar ( minuman keras ), akan tetapi saya akan menyebutkan sebagian saja dari enam pendapat tersebut : 1. Bahwa Nabi SAW tidak menyebutkan secara jelas tentang batas-batas cambukan dalam menjalankan eksekusi bagi si pidana peminum khamar. 2. Bahwa batas cambukan / hukuman bagi peminum khamar adalah 40 cambukan dan tidak boleh melebihi angka tersebut. 3. 80 cambukan, dan tidak boleh melebihi batas tersebut 4. Boleh melampaui batas-batas di atas dengan alasan –alasan yang jelas dan masuk akal. Dilakukannya orientasi permasalahan kepada siswa tersebut. Konselor mencari titik perhatian, yang mana akan menentukan pusat dari penyebab pelanggaran itu dilakukan. Selain itu setelah diberikannya pemahaman siswa harus diperhatikan gerak-geriknya dalam melakukan perubahan dirinya. Untuk menyelesaikan permasalahan ini siswa harus berusaha untuk melakukan perubahan pada dirinya, peran orangtua sangat dibutuhkan, dan konselor selalu memberikan bantuan sampai siswa tersebut dapat meninggalkan kegiatannya itu.

WORKSHOP NASIONAL

Written By hmp BK trenggalek on Rabu, 30 November 2011 | 01.42

WORKSHOP NASIONAL DENGAN TEMA "PENYUSUNAN DAN PENGEMBANGAN PROGRAM BK BERBASIS PENDIDIKAN KARAKTER"

JADWAL PERKULIAHAN BK SMTR 5

Written By hmp BK trenggalek on Jumat, 11 November 2011 | 18.59

Written By hmp BK trenggalek on Rabu, 02 November 2011 | 00.53

Simulation of BK

Written By hmp BK trenggalek on Selasa, 01 November 2011 | 22.37

Simulation of BK merupakan Program Kerja dari Seksi Bidang Akademik yang direncanakan pelaksanaannya setiap 1 bulan sekali. Kegiatannya adalah latihan bersama dengan praktek/ simulasi tentang kegiatan-kegiatan BK, seperti; dinamika kelompok, konseling kelompok, bimbingan kelompok, konseling individual, dll....

INFO TERBARU ; Hari Senin, 21 November 2011 pukul 18.00WIB di Kampus STKIP PGRI Trenggalek akan diadakan Kegiatan ini pertama kali dengan mengambil tema "DINAMIKA KELOMPOK". Info lebih lanjut dapat menghubungi 087764142919 (Tri S)

sie. INFOKOM


PERKULIAHAN MHS SEMESTER 5

Written By hmp BK trenggalek on Senin, 31 Oktober 2011 | 23.31






bersama drs ibnu

dosen madiun






FOBIA

Written By hmp BK trenggalek on Minggu, 30 Oktober 2011 | 19.47


BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Proses belajar di sekolah harus selalu berjalan dengan baik, hal ini harus selalu diusahakan oleh seluruh warga sekolah, terutama guru dan siswa. Untuk mewujudkan cita-cita siswa yang ada, harus diadakan proses pembelajaran yang dapat diterima dan dipahami oleh siswa. Pembelajaran ini dapat tercipta dengan baik jika guru selalu siap dengan materi pembelajaran yang akan diberikan dan juga tidak terlepas dari minat dan keinginan siswa itu sendiri. Selain itu siswa juga harus selalu merasa bahwa kondisinya aman, nyaman, dan menyenangkan pada setiap proses belajar berlangsung.
Jika kita amati, siswa yang rajin belajar adalah siswa yang tidak bermasalah, sehingga jika siswa tersebut mendapatkan suatu masalah maka dapat dipastikan akan mengurangi minat dan kemauan dalam belajar. Hal ini merupakan salah satu tugas dari guru pembimbing/ konselor sekolah dalam melaksanakan profesinya. Tugas itu adalah membantu siswa dalam memahami masalah yang diderita dengan memberikan pelayanan yang terbaik pada setiap proses bimbingan dan konseling berlangsung.
Salah satu yang menyebabkan siswa merasa kurang nyaman dengan dirinya sendiri bisa dikarenakan oleh datangnya gangguan kecemasan diri. Gangguan ini adalah fobia. Fobia merupakan gangguan kecemasan yang ditimbulkan karena adanya perasaan khawatir ataupun ketakutan kepada suatu hal tertentu yang objeknya masih samar-samar.

1.2  Tujuan
Setelah mempelajari salah satu gangguan kecemasan, yakni fobia semoga kita sebagai calon konselor diharapkan :
a.       Mempunyai pemahaman dan wawasan tentang pengertian dari fobia.
b.      Memahami penyebab-penyebab yang mengakibatkan terjadinya fobia.
c.       Dapat mengetahui ciri-ciri dan gejala-gejala dari fobia.
d.      Memiliki langkah untuk membantu individu dalam memberikan pelayanan selama proses bimbingan dan konseling.



BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Fobia
Fobia merupakan salah satu jenis gangguan kecemasan yang perlu kita pahami dan waspadai. Gangguan ini bisa membuat seseorang benar-benar takut terhadap suatu hal tertentu. Sehingga dapat menjadikan seseorang dalam situasi dan kondisi yang was-was dan merasa kurang nyaman, bahkan bisa menyebabkan terjadinya stress jika gangguan ini terus berlanjut. Fobia adalah suatu kekhawatiran yang berlebihan dengan objek atau suatu masalah yang dihadapi itu masih samar-samar.
Fobia adalah kekuatan yang irasional yang menimbulkan upaya menghindar secara (sadar) dari obyek, aktivitas atau situasi yang ditakuti, menurut Kaplan dan Sadock (1994).  Keberadaan dan antisipasi terhadap hal yang ditakuti ini menimbulkan stress pada individu karena dianggap sebagai hal yang berlebihan. Selain adanya reaksi fobia juga mengganggu kemampuan individu tersebut untuk berfungsi dalam kehidupan.

2.2 Jenis-jenis Fobia
Menurut DSM IV, fobia dapat digolongkan dalam 2 jenis yaitu :
1.      Fobia Spesifik
Fobia spesifik berarti ketakutan yang tidak diinginkan karena kehadiran atau antisipasi terhadap obyek atau situasi yang spesifik.

Beberapa contoh fobia spesifik adalah :
1.      Akrofobia, takut berada di ketinggian
2.      Agorafobia, takut berada di tempat terbuka
3.      Klaustrofobia, takut berada di tempat umum
4.      Hematofobia, takut berada sendirian di suatu tempat
5.      Niktofobia, takut pada kegelapan
6.      Pirofobia, takt melihat api
7.      Zoofobia, takut pada binatang
2.      Fobia Sosial
Merupakan ketakutan yang tidak rasional dan menetap, biasanya berhubungan dengan kehadiran orang lain. Individu menghindari situasi dimana dirinya mungkin dievaluasi atau dikritik yang membuatnya merasa terhina atau dipermalukan. Bisa dikatakan akibat dari jalinan hubungan sosial yang dianggap menyudutkan dirinya.

2.3 Penyebab Terjadinya Fobia
Pada umumnya, fobia timbul akibat proses belajar yang tidak semestinya ( faulty learning ), sebagaimana dapat terwujud dalam beberapa situasi sebagai berikut :
1.      Pernah mengalami trauma psikologis dalam situasi tertentu dikaitkan dengan rasa takut yang dialami pada saat terjadi trauma. Misalnya, seorang siswa menjadi takut pada ketinggian karena pernah jatuh dari pohon mangga ketika mau memetiknya.
2.      Sebagai kiat untuk mengalihkan kecemasan. Misalnya, seorang buruh bangunan yang merasa takut tidak dapat pekerjaan tiba-tiba mencari hutangan.
3.       Modelling, ketakutan dapat dipelajari dengan cara mengobservasi dan meniru reaksi dari orang lain. Bahkan fobia juga dapat dipelajari melalui instruksi verbal atau deskripsi dan orang lain.

2.4 Ciri – ciri Fobia
Ciri ciri psikis seseorang yang memiliki fobia biasanya muncul rasa cemas atau panik, tetapi tanpa dasar yang jelas. Sedangkan pada ciri ciri fisik gemetar, jantung berdebar debar, terkadang disertai nafas yang tersengal sengal.

2.5 Penanganan Fobia
Pertama kali yang harus dilakukan adalah mengenali terlebih dahulu penyebab fobia. Pada kasus-kasus tertentu bisa jadi sumber masalah tidak dikenali, hal tersebut disebabkan tidak ingin mengingatnya kembali karena peristiwanya sangat traumatik ataupun sudah lama terjadi.
1.      Menurut Davinson dan Neale (2001), fobia dapat disembuhkan dengan menggunakan beberapa teknik, salah satunya dengan pembiasaan (desensitisasi sistematis), yaitu :
a.       Imagery
Individu yang mengalami fobia membayangkan suatu kejadian (stimulus fobia) yang semakin lama semakin menakutkan, sementara individu tersebut berada dalam keadaan tenang (ada proses relaksasi).
b.      Flooding
Individu dihadapkan secara langsung pada sumber fobianya dengan intensitas penuh. Namun cara ini sebaiknya digunakan sebagai alternatif terakhir karena menimbulkan ketidaknyamanan yang besar.
c.       Modelling
Melalui modeling individu menyaksikan orang lain berinteraksi dengan sesuatu  yang menjadi obyek fobia tanpa rasa takut.
2.      Cara lain adalah dengan menimbulkan emosi lain/ motif lain yang lebih kuat seperti motivasi uang pada “Fear Factor”. Atau saat dipuncak ketakutan naik Roaler Coaster. Walaupun perubahan dapat berlangsung cepat, namun hal ini perlu keberanian yang tinggi.
3.      Atau dengan cara melakukan self hipnosis. Dalam keadaan relaks, diri menyediakan diri untuk melepaskan emosi negatif yang terkunci (katarsis). Namun hal ini memerlukan ketrampilan melakukan self hipnosis terlebih dahulu.




BAB III
PEMBAHASAN

3.1  Akrofobia (Fobia Ketinggian)
  1. Peristiwa
Joni namanya, takut pada ketinggian karena pernah jatuh dari pohon. Hingga 15 tahun Joni masih tetap takut pada ketinggian sehingga untuk memanjat pohon mangga saja Joni tidak berani apalagi naik tangga Joni juga takut
  1. Penyebab
Pernah jatuh dari pohon sewaktu kecil hingga kakinya patah
  1. Cara Penanganan
Memaksa joni memanjat tangga untuk suatu hal penting. Misal : mengantar kunci pas ketika ayahnya memperbaiki antenna parabola. Setelah dipaksa dan berani maka membiasakan diri untuk naik tangga atau memanjat pohon yang rendah dulu baru kelama-lamaan yang tinggi. Melawan rasa takut.

3.2  Fobia Kecelakaan
  1. Peristiwa
Zia namanya, umur 7 tahun. Selama 1 tahun tidak mau diajak keluar rumah yang mengharuskan Zia naik motor atau naik mobil dan melewati jalan umum. Zia akan duduk jongkok sambil menutup telinga dengan wajah pucat apabila mendengar suara “bruk” motor yang jatuh akibat kecelakaan. Apalagi kalau melihat darah, meski sedikit akan langsung pucat wajahnya.

  1. Penyebab
Pernah secara langsung melihat kecelakaan dimana pengendara itu berlumuran darah dengan kondisi kepalanya pecah dan tewas seketika.
  1. Cara Penanganan
Menyuruh anak membayangkan kejadian itu dengan cara yang halus kemudian menjelaskan bahwa kecelakaan itu tidak seperti itu. Mengajak anak keluar rumah dengan jarak yang dekat dulu baru agak jauh dengan jalan kaki dulu. Sering mengajak anak naik motor untuk jarak yang jauh. Mengajak anak sesekali melihat kecelakaan. Memberi pengetahuan bahwa darah itu bukan hal yang meakutkan, missal mengajak anak melihat proses donor darah.

3.3  Fobia Sosial
  1. Peristiwa
Kasus fobia di sekolah dialami oleh Dita umur 5 tahun. Dita baru masuk sekolah TK selama 4 bulan, tiba-tiba Dita tidak mau sekolah. Meskipun sudah dibujuk, tapi tetap tidak mau sekolah, Dita menangis, Dita benar-benar tidak mau ke sekolah, buku-buku dan tasnya dibuang. Dita tidak mau lagi diajak ke sekolah. Bahkan Dita bilang tidak akan sekolah lagi.
  1. Penyebab Fobia
a.       Separation Anxiety
Ini merupakan kecemasan yang dialami anak. Anak pergi kesekolah berarti anak keluar dari rumah untuk jangka waktu yang lama. Mereka tidak hanya akan rindu orang tua, rindu mainan, rindu rumah, tetapi mereka cemas menghadapi tantangan pengalaman baru dan tekanan-tekanan di luar rumah.
b.      Ada pengalaman negative di sekolah
Mungkin anak mendadak ke sekolah karena takut pernah diganggu temannya seperti dipukul, diejek sehingga ini membuat anak benar-benar takut dan tidak mau ke sekolah. Dan mungkin anak memiliki pengalamn buruk dengan gurunya di sekolah karena ada tipe guru yang galak menurut anak dan kurang mengerti anak.
c.       Anggapan anak bahwa sekolah adlah penjara
Anak merasa ketika di sekolah anak seperti dalam penjara yang harus menurut/patuh pada peraturan padahal anak ingin bebas.
d.      Sekolah kurang menyadari bahwa anak TK memiliki dunia bermain sehingga guru member PR yang berat bagi anak. Misal : menghafal kosakata bahasa inggris
e.       Masalah dalam keluarga
Misal : anak pernah mendengar orang tua bertengkar bahkan melihat pertengkaran itu sehingga menimbulkan tekanan emosional yang mengganggu konsentrasi belajar.
  1. Cara penanganan :
a.       Tetap menekankan pentingnya bersekolah. Para ahli psikologosi mengatakan, terapi yang baik adalah mengharuskan tetap bersekolah.
b.      Tetap tegas mengharuskan anak sekolah meskipun anak merengek tidak mau sekolah.
c.       Bekerja sama dengan guru kelas.
  1. Meluangkan waktu untuk berdiskusi dengan anak tentang masalah sekolah.
  2. Melepaskan anak secara bertahap.
  3. Jika anak tidak mau ke sekolah karena alasan sakit bawa ke dokter untuk memastikan apakah anak benar-benar sakit.


BAB IV
PENUTUP

4.1  Kesimpulan
Salah satu yang menyebabkan siswa merasa kurang nyaman dengan dirinya sendiri bisa dikarenakan oleh datangnya gangguan kecemasan diri. Gangguan ini adalah fobia. Fobia merupakan gangguan kecemasan yang ditimbulkan karena adanya perasaan khawatir ataupun ketakutan kepada suatu hal tertentu yang objeknya masih samar-samar.
Fobia adalah kekuatan yang irasional yang menimbulkan upaya menghindar secara (sadar) dari obyek, aktivitas atau situasi yang ditakuti, menurut Kaplan dan Sadock (1994).  Keberadaan dan antisipasi terhadap hal yang ditakuti ini menimbulkan stress pada individu karena dianggap sebagai hal yang berlebihan. Selain adanya reaksi fobia juga mengganggu kemampuan individu tersebut untuk berfungsi dalam kehidupan.

4.2  Saran
Di dalam melakukan pelayanan bimbingan dan konseling seorang konselor, ketika membantu memberikan penanganan tentang fobia, yang perlu diperhatikan antara lain :
  1. Pertama kali yang harus dilakukan adalah mengenali terlebih dahulu penyebab fobia. Pada kasus-kasus tertentu bisa jadi sumber masalah tidak dikenali, hal tersebut disebabkan tidak ingin mengingatnya kembali karena peristiwanya sangat traumatik ataupun sudah lama terjadi.
  2. Fobia dapat disembuhkan dengan menggunakan beberapa teknik, salah satunya dengan pembiasaan (desensitisasi sistematis).
  3. Cara lain adalah dengan menimbulkan emosi lain/ motif lain yang lebih kuat seperti motivasi uang pada “Fear Factor”. Atau saat dipuncak ketakutan naik Roaler Coaster.
Semoga makalah yang kami susun ini dan bermanfaat bagi penulis khususnya, dan bagi pembaca pada umumnya.


DAFTAR PUSTAKA

Mappiare, Drs. Andi. Psikologi Remaja. 1982. USAHA NASIONAL:Surabaya.
Taniputera, Ivan. Psikologi Kepribadian. 2005. AR-RUZZ:Jogjakarta.
Asri, Dahlia Novarianing, S.Psi., M.Si. Diktat Kuliah Psikologi Abnormal. 2010.
http://www.iblogronnp.com/2009/07/how-can-i-cope-with-stress-at-school.html.

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Trenggalek konseling - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger