Follow by Email

Home » » MASA PUBER

MASA PUBER

Written By hmp BK trenggalek on Senin, 31 Oktober 2011 | 23.32


BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Perkembangan adalah suatu proses yang mengarah ke depan dan tidak akan kembali atau tidak begitu saja dapat diulang kembali. Maksudnya perkembangan individu tersebut mengalami perubahan yang sedikit banyak bersifat tetap dan tidak dapat diputar kembali pada kehidupan yang lalu, dan ia akan terus berkembang mengarah ke depan.
Manusia adalah makhluk yang unik. Di mana antara individu yang satu dengan yang lain memiliki perbedaan. Manusia bertindak sebagai makhluk individu dan makhluk sosial. Manusia tidak akan dapat hidup sendiri, sehingga selalu membutuhkan orang lain.
Manusia dalam kehidupan mengalami beberapa tahap perkembangan. Berawal dari masa bayi kemudian kanak-kanak lalu remaja dan dewasa. Semua itu akan selalu ada dan dialami oleh manusia dalam perkembangannya.
Masa puber merupakan bagian dari kehidupan manusia yang memiliki keunikan tersendiri. Ada beberapa pendapat yang menyatakan dan mendefinisikan tentang puber. Di dalam hal ini ada ketidaksamaan pendapat dari beberapa orang, sehingga kita juga berusaha mengetahui dan mempelajari pendapat-pendapat tersebut yang sesuai dengan kehidupan individu pada kehidupan yang nyata.
Mulai dari rentangan usia pada masa puber, ciri-ciri dari pubertas, ataupun hal-hal lain yang berkaitan dengan masa puber. Walau dalam pemaparannya terjadi perbedaan pendapat, tetapi perbedaan itu tidak mengakibatkan pertentangan antara individu dalam kehidupan. Dengan demikian kita sebaiknya mempelajari dan memahami segala hal yang berhubungan dengan individu pada masa puber ini.

1.2  Tujuan
Setelah mempelajari perkembangan pada masa puber ini kita sebagai calon konselor diharapkan :
a.       Mempunyai wawasan dan pengertian tentang individu pada masa puber.
b.      Memahami tahapan yang terjadi dan dialami oleh individu dalam kehidupan pada masa puber.
c.       Beberapa masalah yang sering timbul pada masa puber yang ditemukan oleh individu.
d.      Melakukan langkah-langkah yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan dalam menangani masalah-masalah yang timbul pada masa puber jika kita menjadi seorang konselor.



BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Pubertas
Pubertas berasal dari bahasa latin “pubescere”, artinya mendapat rambut kemaluan, yakni masa awal terjadinya pematangan seksual, sehingga dapat disimpulkan bahwa pubertas (puberty) ialah suatu periode dimana kematangan kerangka dan seksual terjadi dengan pesat.
Masa puber merupakan suatu peralihan antara masa anak dan masa dewasa yang berjalan antara umur 10/12 tahun sampai dengan 16/18 tahun. Pada anak perempuan, biasanya akan mengalami pubertas yang lebih dahulu dibandingkan dengan anak laki-laki, yakni pada saat anak berusia 10 tahun sampai 16 tahun. Proses pubertas pada anak perempuan ini timbul karena keluarnya hormon estrogen yang diproduksi tubuh yang akan mengubah bentuk luar dari tubuh anak perempuan dan membuat organ-organ genitalnya berkembang.
Pubertas adalah periode dalam rentang perkembangan ketika anak - anak berubah dari makhluk aseksual menjadi makhluk seksual. Seperti diterangkan Root (dalam Hurlock, 1980) bahwa Masa puber adalah suatu tahap dalam perkembangan di mana terjadi kematangan alat-alat seksual dan tercapai kemampuan reproduksi. Tahap ini disertai dengan perubahan-perubahan dalam pertumbuhan somatic dan perspektif psikologis.
Kata pubertas berasal dari kata latin yang berarti “usia kedewasaan“. Kata ini lebih menunjukkan pada perubahan fisik daripada perubahan perilaku yang terjadi pada saat individu secara matang secara seksual dan mampu memberikan keturunan. Sehingga berdasar pengetahuan saat ini, harapan sosial berkembang dalam bentuk tugas perkembangan yang merupakan tugas perkembangan, merupakan pedoman bagi para orang tua untuk mengetahui harapan anak-anak yang memsuki periode metamorphosis ini. Selain itu anak-anak juga sadar bahwa mereka memasuki tahap baru dalam kehidupan, dan seperti halnya dalam semua penyesuaian diri dengan harapan sosial yang baru, sebagian besar menganggap masa puber sebagai periode yang sulit dalam kehidupan.

2.2 Tahap – tahap Pubertas
2.2.1 Masa Pra-pubertas (12 - 13 tahun)
Masa ini disebut juga masa pueral, yaitu masa peralihan dari kanak-kanak ke remaja. Pada anak perempuan, masa ini lebih singkat dibandingkan dengan anak laki-laki. Pada masa ini, terjadi perubahan yang besar pada individu, yaitu meningkatnya hormon seksualitas dan mulai berkembangnya organ-organ seksual serta organ-organ reproduksi remaja.
Pada fase ini, terjadi perkembangan intelektual yang sangat pesat, sehingga seringkali individu-individu ini cenderung bersikap suka mengkritik (karena merasa tahu segalanya), yang sering diwujudkan dalam bentuk pembangkangan ataupun pembantahan terhadap orang tua, mulai menyukai orang dewasa yang dianggapnya baik, serta menjadikannya sebagai "hero" atau pujaannya. Perilaku ini akan diikuti dengan meniru segala yang dilakukan oleh pujaannya, seperti model rambut, gaya bicara, sampai dengan kebiasaan hidup pujaan tersebut. Ekspresi ini menunjukkan pula terjadinya proses erosi percaya diri, namun bisa pula terjadi perkembangan positif seperti meningkatnya rasa percaya diri.
Selain itu, pada masa ini individu juga cenderung lebih berani mengutarakan keinginan hatinya, lebih berani mengemukakan pendapatnya, bahkan akan mempertahankan pendapatnya sekuat mungkin. Hal ini yang sering ditanggapi oleh orang tua sebagai pembangkangan. individu tidak ingin diperlakukan sebagai anak kecil lagi. Mereka lebih senang bergaul dengan kelompok yang dianggapnya sesuai dengan kesenangannya. Mereka juga semakin berani menentang tradisi orang tua yang dianggapnya kuno dan tidak/kurang berguna, maupun peraturan-peraturan yang menurut mereka tidak beralasan, seperti tidak boleh mampir ke tempat lain selepas sekolah, dan sebagainya. Mereka akan semakin kehilangan minat untuk bergabung dalam kelompok sosial yang formal, dan cenderung bergabung dengan teman-teman pilihannya. Misalnya, mereka akan memilih main ke tempat teman karibnya daripada bersama keluarga berkunjung ke rumah saudara.
Tetapi, pada saat yang sama, mereka juga butuh pertolongan dan bantuan yang selalu siap sedia dari orang tuanya, jika mereka tidak mampu menjelmakan keinginannya. Pada saat ini adalah saat yang kritis. Jika orang tua tidak mampu memenuhi kebutuhan psikisnya untuk mengatasi konflik yang terjadi saat itu, remaja akan mencarinya dari orang lain. Orang tua harus ingat, bahwa masalah yang dihadapi individu ini, meskipun bagi orang tua itu merupakan masalah sepele, tetapi bagi mereka itu adalah masalah yang sangat-sangat berat.
2.2.2 Masa pubertas (14 - 16 tahun)
Masa ini disebut juga masa remaja awal, dimana perkembangan fisik mereka begitu menonjol. Remaja sangat cemas akan perkembangan fisiknya, sekaligus bangga bahwa hal itu menunjukkan bahwa ia memang bukan anak-anak lagi. Pada masa ini, emosi remaja menjadi sangat labil akibat dari perkembangan hormon-hormon seksualnya yang begitu pesat. Keinginan seksual juga mulai kuat muncul pada masa ini. Pada remaja wanita ditandai dengan datangnya menstruasi yang pertama, sedangkan pada remaja pris ditandai dengan datangnya mimpi basah yang pertama. Remaja akan merasa bingung dan malu akan hal ini, sehingga orang tua harus mendampinginya serta memberikan pengertian yang baik dan benar tentang seksualitas. Jika hal ini gagal ditangani dengan baik, perkembangan psikis mereka khususnya dalam hal pengenalan diri/gender dan seksualitasnya akan terganggu. Kasus-kasus gay dan lesbi banyak diawali dengan gagalnya perkembangan remaja pada tahap ini.
Di samping itu, remaja mulai mengerti tentang gengsi, penampilan, dan daya tarik seksual. Karena kebingungan mereka ditambah labilnya emosi akibat pengaruh perkembangan seksualitasnya, remaja sukar diselami perasaannya. Kadang mereka bersikap kasar, kadang lembut. Kadang suka melamun, di lain waktu dia begitu ceria. Perasaan sosial remaja di masa ini semakin kuat, dan mereka bergabung dengan kelompok yang disukainya dan membuat peraturan-peraturan dengan pikirannya sendiri.

2.2.3 Masa akhir pubertas (17 - 18 tahun)
Pada masa ini, remaja yang mampu melewati masa sebelumnya dengan baik, akan dapat menerima kodratnya, baik sebagai laki-laki maupun perempuan. Mereka juga bangga karena tubuh mereka dianggap menentukan harga diri mereka. Masa ini berlangsung sangat singkat. Pada remaja putri, masa ini berlangsung lebih singkat daripada remaja pria, sehingga proses kedewasaan remaja putri lebih cepat dicapai dibandingkan remaja pria. Umumnya kematangan fisik dan seksualitas mereka sudah tercapai sepenuhnya. Namun kematangan psikologis belum tercapai sepenuhnya.

2.3 Ciri – ciri Masa Puber
Pada masa puber ini merupakan periode yang unik dan khusus yang ditandai oleh perubahan-perubahan perkembangan tertentu yang tidak terjadi dalam tahap-tahap lain dalam rentang kehidupan ( Hurlock,1980 ). Ciri-ciri ini dapat kita temui, antara lain :
1.      Masa puber adalah periode tumpang tindih
Masa puber harus dianggap sebagai periode tumpang tindih karena mencakup tahun-tahun akhir masa anak-anak dan tahun-tahun awal masa remaja. Sampai anak matang secara seksual, dikenal sebagai anak puber. Setelah matang secara seksual anak dikenal sebagai remaja atau remaja muda.
2.      Masa puber adalah periode yang singkat
Dibandingkan dengan banyaknya perubahan yang terjadi di dalam mapun di luar tubuh, masa puber relative merupakan periode yang singkat, sekitar dua sampai empat tahun. Anak yang mengalami masa puber selama dua tahun atau kurang dianggap sebagai anak yang cepat matang, sedangkan yang memerlukan tiga sampai empat tahun dianggap sebagai anak yang lambat matang. Anak perempuan cenderung lebih cepat matang daripada anak laki-laki.
3.      Masa puber merupakan masa pertumbuhan dan perubahan yang pesat
Masa puber atau pubertas adalah salah satu dari dua periode dalam rentang kehidupan yang ditandai oleh pertumbuhan yang pesat dan perubahan yang mencolok dalam proporsi tubuh. Perubahan-perubahan pesat yang terjadi selama masa puber menimbulkan keraguan, perasaan tidak mampu dan tidak aman, dan dalam banyak kasus mengakibatkan perilaku kurang baik. Tumbuh pesat ini berlangsung satu atau dua tahun sebelum anak matang secara seksual dan berlangsung terus selama enam bulan sampai setahun kemudian.
4.      Masa puber merupakan fase negative
Istilah fase menunjukkan periode yang berlangsung singkat, negative berarti individu mengambil sikap anti terhadap kehidupan atau kelihatannya kehilangan sifat-sifat baik yang sebelumnya sudah berkembang. Sikap dan perilaku negative merupakan ciri dari bagian awal masa puber dan yang terburuk dari fase negatif akan berakhir bila individu menjadi matang secara seksual.




2.4 Perubahan-perubahan pada Masa Pubertas
2.4.1 Perubahan Seksual
Kematangan seksual merupakan suatu rangkaian dari perubahan-perubahan yang terjadi pada masa remaja, yang ditandai dengan perubahan pada ciri-ciri seks primer dan ciri-ciri seks skunder. Meskipun perkembangan ini biasanya mengikuti suatu urutan tertentu, namun urutan dari kematangan seksual tidak sama pada setiap anak dan terdapat perbedaan individual dalam umur dari perubahan tesebut.
1.      Ciri-ciri seks primer
Ciri-ciri seks primer pada dasarnya langsung berhubungan dengan proses reproduksi. Ciri-ciri seks primer antara laki-laki dan perempuan itu berbeda. Bagi anak laki-laki, ciri-ciri seks primer yang sangat penting ditunjukkan dengan pertumbuhan yang cepat dari batang kemaluan (penis) dan kantung kemaluan (scrotum), yang mulai terjadi pada usia 12 tahun dan berlangsung sekitar 5 tahun untuk penis dan 7 tahun untuk scrotum (Selfert & Hoffnung, 1994).
Oleh karena itu kadang – kadang pada usia 12 tahun anak laki-laki kemungkinan mengalami penyemburan air mani pertama yang dikenal dengan mimpi basah.
Sementara itu, pada anak perempuan perubahan seksual, ciri-ciri primernya ditandai dengan munculnya periode menstruasi, yang disebut dengan menarche, yaitu menstruasi yang pertama dialami oleh seorang gadis. Terjadinya menstruasi pertama menunjukkan kematangan, sehingga memungkinan mereka untuk mengandung dan melahirkan.
Oleh sebab itu, menstruasi pertama pada anak perempuan didahului oleh sejumlah perubahan lain yang meliputi pembesaran payudara, kemunculan rambut di daerah kelamin dan pembesaran pinggul dan bahu.

2.      Ciri-ciri seks sekunder
Ciri-ciri seks sekunder adalah tanda-tanda jasmaniah yang tidak langsung berhubungan dengan proses reproduksi, tetapi merupakan tanda-tanda yang membedakan laki-laki dan perempuan. Tanda-tanda jasmaniah ini muncul sebagai konsekuensi dari berfungsinya hormon. Di antaranya tanda-tanda jasmaniah laki-laki adalah tumbuhnya jakun, bahu, dan dada melebar, suara berat, tumbuh bulu di ketiak, di dada, di kaki, di lengan, dan di sekitar kemaluan serta otot-otot menjadi kuat.
Sedangkan pada perempuan terlihat pada payudara dan pinggul yang membesar, suara menjadi halus, tumbuh bulu di ketiak dan di sekitar kemaluan.

2.4.2 Perubahan Fisik
Pada masa pubertas ini terjadi perubahan-perubahan fisik secara dramatis atau apa yang disebut dengan “growth spurt” (percepatan pertumbuhan), di mana terjadi perubahan dan percepatan pertumbuhan di seluruh bagian dan dimensi fisik (Sigler & Stevenson, 1993), baik bertambah berat dan tinggi badan, perubahan dalam proporsi dan bentuk tubuh, maupun pencapaian kematangan seksual (Papalia, Old & Feldom, 2008).
Secara umum, perubahan-perubahan fisik dalam masa pubertas disebabkan oleh matangnya kelenjar pituitari (pituitari gland), yakni kelenjar endoktrin yang berhubungan dengan otak. Percepatan pertumbuhan yang terjadi selama masa puber ini hanya berlangsung sekitar 2 tahun, dan setelah masa tersebut berakhir anak itu mencapai kematangan seksual. Pada dasarnya perempuan mengalami percepatan pertumbuhan fisik lebih awal 2 tahun dibanding dengan laki-laki.
Ciri-ciri pertumbuhan fisik perempuan pada masa puber antara lain ; badan anak perempuan mempunyai bentuk yang khas wanita, seperti berpinggul besar, berpayudara. Sedangkan pada anak laki-laki memiliki ciri-ciri bertambah lebarnya bahu.
Seiring dengan pertambahan tinggi dan berat badan, percepatan pertumbuhan selama masa pubertas juga terjadi pada proporsi tubuh. Bagian-bagian tubuh tertentu yang sebelumnya terlalu kecil, pada masa pubertas ini menjadi besar. Hal ini terlihat jelas pada pertumbuhan tangan dan kaki, yang sering terjadi tidak proporsional. Perubahan proporsi tubuh yang tidak seimbang ini menyebabkan anak merasa kaku dan canggung, serta khawatir bahwa badannya tidak akan pernah serasi dengan tangan dan kakinya.
Perubahan-perubahan dalam proporsi tubuh selama masa pubertas, juga terlihat pada perubahan ciri-ciri wajah, di mana wajah anak-anak mulai menghilang. Seperti dahi yang semula sempit sekarang menjadi lebih luas, mulut lebar dan bibir menjadi lebih penuh. Di samping itu, dalam perubahan struktur kerangka, terjadi percepatan pertumbuhan otot, sehingga mengakibatkan terjadinya pengurangan jumlah lemak dalam tubuh. Perkembangan otot laki-laki itu lebih cepat dari pada perempuan, sehingga anak laki-laki lebih kuat dari pada anak perempuan.

2.4.3 Perkembangan Motorik
Pada masa pubertas perkembangan motorik anak lebih sempurna dan terkoordinasi dengan baik, seiring dengan bertambahnya berat dan kekuatan badan anak. Anak terlihat sudah mampu mengontrol dan mengkoordinasi gerakan anggota tubuhnya seperti tangan dan kaki dengan baik. Mampu menjaga keseimbangan badannya.
Untuk memperhalus ketrampilan-ketrampilan motorik anak harus terus melakukan berbagai aktifitas fisik, misalnya olahraga. Bersaing dan meningkatkan harga diri.

2.5 Akibat-akibat Perubahan Fisik Masa Puber
Perubahan fisik pada masa puber mempengaruhi semua bagian tubuh, baik eksternal maupun internal. Meskipun akibatnya biasanya terjadi sementara, namun cukup menimbulkan perubahan dalam pola perilaku, sikap dan kepribadian. Namun demikian ada bukti yang menunjukkan bahwa perubahan dalam sikap dan perilaku yang terjadi pada saat ini lebih merupakan akibat dari perubahan sosial daripada akibat perubahan kelenjar yang berpengaruh pada keseimbangan tubuh ( Hrlock, 1980 ). Semakin sedikit simpati dan pengertian yang diterima anak puber dari orang tua, kakak adik, guru-guru dan teman-teman dan semakin besar harapan sosial pada periode ini, semakin besar akibat psikologis dari perubahan-perubahan fisik. Perubahan masa puber terhadap sikap dan perilaku yang paling umum, paling serius dan paling kuat seperti dipaparkan di bawah ini.
1.      Ingin menyendiri
Kalau perubahan masa puber mulai terjadi anak-anak biasanya menarik diri dari teman-temannya dan dari berbagai kegiatan keluarga dan sering bertengkar dengan teman-teman dan anggota keluarga. Gejala menarik diri ini mencakup ketidakinginan berkomunikasi dengan orang-orang lain.
2.      Bosan
Anak puber bosan dengan permainan yang sebelumnya amat digemari, tugas-tugas sekolah, kegiatan social dan kehidupan pada umumnya. Akibatnya, anak sedikit sekali bekerja sehingga prestasi diberbagai bidang cenderung menurun.
3.      Inkoordinasi
Pertumbuhan pesat dan tidak seimbang mempengaruhi pola koordinasi gerakan dan anak akan merasa kikuk dan janggal selama beberapa waktu. Setelah pertumbuhan melambat, koordinasi akan membaik secara bertahap.
4.      Antagonisme sosial
Anak puber seringkali tidak mau bekerjasama, sering membantah dan menentang. Permusuhan terbuka antara dua jenis kelamin berlainan diungkapakan dalam kritik dan komentar-komentar yang merendahkan. Dengan berlanjutnya masa puber, anak kemudian menjadi ramah, lebih dapat bekerja sama dan lebih sabar kepada orang lain.
5.      Emosi yang meninggi
Kemurungan, merajuk, ledakan amarah dan kecenderungan untuk menangis karena hasutan yang sangat kecil merupakan ciri-ciri bagian awal masa puber. Pada masa ini anak merasa khawatir, gelisah dan cepat marah. Sedih, mudah marah dan suasana hati yang negatif sangat sering terjadi selama masa prahaid dan awal periode haid. Dengan semakin matangnya keadaan fisik, ketegangan mulai berkurang dan anak sudah mulai mampu mengendalikan emosinya.
6.      Hilangnya kepercayaan diri
Anak-anak yang tadinya sangat yakin pada diri sendiri, sekarang menjadi kurang percaya diri dan takut akan kegagalan karena daya tahan fisik menurun dank arena kritik yang bertubi-tubi dari orang tua dan teman-temannya. Banyak anak laki-laki dan perempuan setelah masa puber mempunyai perasaan rendah diri.
7.      Terlalu sederhana
Perubahan tubuh yang terjadi selama masa puber menyebabkan anak menjadi sangat sederhana dalam segala penampilannya karena takut orang lain akan memperhatikan perubahan yang dialaminya dan memberi komentar yang buruk.

Hurlock (1980) mengungkapkan bahwa pada umunya pengaruh masa puber lebih banyak pada anak perempuan daripada laki-laki, sebagian disebabkan karena anak perempuan biasanya lebih cepat matang daripada anak laki-laki dan sebagian Karena banyak hambatan-hambatan sosial mulai ditekankan pada perilaku anak perempuan justru pada saat anak perempuan mencoba untuk membebaskan diri dari berbagai pembatasan. Karena mencapai masa puber lebih dulu, anak perempuan lebih cepat menunjukkan tanda-tanda perilaku yang mengganggu daripada anak laki-laki. Tetapi perilaku anak perempuan lebih cepat stabil daripada anak laki-laki dan anak perempuan mulai berperilaku seperti sebelum masa puber.


BAB III
PENUTUP

3.1  Kesimpulan
Perkembangan individu itu sangat unik. Hal ini terbukti dengan adanya ciri-ciri yang dialami oleh individu pada tahapannya. Perbedaan sikap dan tingkah laku yang terjadi dan dialami oleh individu pada masa puber ini. Tugas perkembangan yang berbeda pula serta permasalahan yang ditimbulkan juga berlainan.
Pubertas berasal dari bahasa latin “pubescere”, artinya mendapat rambut kemaluan, yakni masa awal terjadinya pematangan seksual, sehingga dapat disimpulkan bahwa pubertas (puberty) ialah suatu periode dimana kematangan kerangka dan seksual terjadi dengan pesat.
Masa puber merupakan suatu peralihan antara masa anak dan masa dewasa yang berjalan antara umur 10/12 tahun sampai dengan 16/18 tahun. Pada anak perempuan, biasanya akan mengalami pubertas yang lebih dahulu dibandingkan dengan anak laki-laki, yakni pada saat anak berusia 10 tahun sampai 16 tahun.
Ciri-ciri pubertas antara lain ; masa puber adalah periode tumpang tindih, periode yang singkat, masa pertumbuhan dan perubahan yang pesat, dan merupakan tahapan yang negatif pula. Disertai dengan perubahan seksualitas, perubahan dan pertumbuhan fisik, perkembangan motorik, dan sebagainya.
Pada masa puber ini, individu menimbulkan sikap dan tingkah laku, yaitu ; adanya keinginan untuk menyendiri, bosan, inkoordinasi, antagonisme sosial, emosi meninggi, hilangnya kepercayaan diri, serta terlalu sederhana.

3.2  Saran dan Kritik
Di dalam melakukan pelayanan bimbingan dan konseling seorang konselor perlu memperhatikan :
  1. Perkembangan invidu yang terjadi, terutama pada masa puber.
  2. Penanganan masalah yang dilakukan oleh konselor kepada konseli disesuaikan dengan perkembangan yang terjadi.
  3. Permasalahan yang sering muncul merupakan permasalahan yang nyata dan terbukti di dalam kehidupan, sehingga pelayanan yang diberikan harus benar-benar dapat dipertanggungjawabkan dan tepat dengan sasaran.
Semoga makalah yang kami susun ini dan bermanfaat bagi penulis khususnya, dan bagi pembaca pada umumnya. Saran dan kritik kami tunggu.


DAFTAR PUSTAKA

Mappiare, Drs. Andi. Psikologi Remaja. 1982. USAHA NASIONAL:Surabaya.
Taniputera, Ivan. Psikologi Kepribadian. 2005. AR-RUZZ:Jogjakarta.
Dra. Desmita. M.Si, Psikologi Perkembangan Peserta Didik. 2009. PT. REMAJA ROSDAKARYA:Bandung
Afifah, Dian Ratnaningtyas, M.Psi dan Hery Bagus Anggoro, S.Pd. Diktat Kuliah Perkembangan Individu I.
http://www.iblogronnp.com/2009/07/how-can-i-cope-with-stress-at-school.html
Share this article :

0 komentar:

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Trenggalek konseling - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger